Teruntuk Kamu yang Selalu Peduli

Apakah kamu selalu ikut merasakan apa yang orang lain rasakan? Apakah kamu cenderung memprioritaskan orang lain sehingga merasa kewalahan akibat emosi mereka? Jika iya, kamu adalah si “emotional sponge” karena rasa empati yang tinggi. Berikut tulisan teruntuk kamu yang selalu peduli.

 

Iya, kamu yang selalu mencoba untuk membasuh pipi orang di sekitarmu hingga basah juga pipimu. Seringkali kamu biarkan air mata mereka menetes deras di pundakmu, hingga masuk jauh ke dalam hatimu. Layaknya sebuah spons, yang kamu pedulikan hanyalah membantu mereka kembali bersih. Rela menyerap perasaan yang bukan milikmu, hingga dirimu sendiri tersisih. Tapi kamu tidak harus selalu menanggung semua itu. Karena jauh di lubuk hatimu sendiri kamu sadar bahwa kamu sudah tidak mampu menanggungnya lagi. untuk kali ini saja, cobalah peras hatimu dari perasaan yang bukan milikmu. Agar kamu kembali menjadi kamu. 

 

Quietrev menyebutkan bahwa emotional sponge adalah seseorang yang selalu menyerap stres yang dialami orang lain kedalam tubuhnya sendiri. Rasa empati yang tinggi membuatmu menjadi tempat berlindung banyak orang, kehadiranmu membuat mereka nyaman sehingga mereka seringkali mencurahkan beragam isi hati kepada dirimu. Namun, disisi lain rasa empati yang tinggi tersebut malah membuatmu ikut terhanyut di dalamnya. Sehingga kamu menjadi kewalahan hingga stres. Disisi lain, rasa empati tersebut sering menghambatmu untuk kembali memprioritaskan dirimu sendiri. Memang sulit pasti. Tapi demi kebaikanmu sendiri, kamu harus memulainya. 

 

Menurut Huffpost, hal yang harus dilakukan pertama adalah menyadari dulu bahwa kamu memiliki rasa empati yang tinggi sehingga kamu bisa mulai mengambil alih kendali emosimu kembali. Setelah itu kamu bisa lakukan hal-hal ini :

  • Beri jeda sejenak untuk menenangkan emosimu. Seperti menarik nafas yang panjang atau jalan kaki sebentar. Jeda dari dunia sekitar sangatlah membantumu untuk kembali mengambil alih kendali emosimu.
  • Mempraktekan meditasi. Saat kamu merasa kewalahan, kamu bisa dengan cepat bermeditasi selama beberapa menit untuk memfokuskan kembali energimu sendiri.
  • Mendefinisikan dan menghormati kebutuhan empatik kamu tersebut. Kamu yang mengerti batasanmu sendiri. Cobalah untuk mempertahankannya, karena berkata “tidak” adalah sebuah kewajaran. 

 

Bagi seseorang yang memiliki rasa peduli yang tinggi, mungkin butuh waktu yang lama untuk bisa tidak memprioritaskan orang lain. Namun, tidak apa-apa. Untuk mencapai suatu titik, memang diperlukan suatu proses. Ambil waktumu sendiri. Atau mungkin kamu bisa menghubungi orang-orang terdekatmu yang memiliki energi positif, sehingga kamu bisa ikut menyerapnya agar cepat pulih. Masih dari Huffpost, kamu bisa menghabiskan waktu dengan teman yang bisa melihat kebaikan dari segala hal atau teman yang bisa menghargai perasaanmu. Kamu pasti bisa melewati semua ini.  

 

Referensi : 

Huffpost, 

https://www.huffpost.com/entry/absorbing-emotions_b_861863,

https://www.huffpost.com/entry/are-you-an-emotional-empa_b_697483 

Diakses pada 13 April 2022

Quiet Revolution, 

https://quietrev.com/9-self-protection-strategies-for-empaths/#:~:text=Empaths%20are%20emotional%20sponges%20who,stress%20into%20their%20own%20bodies.&text=Use%20them%20in%20situations%20where,else’s%20physical%20or%20emotional%20distress

Diakses pada 13 April 2022

Post a Comment:

+62 812-2747-8988
info@ikigaiguild.com